Nilai Nasionalisme Telah Luntur Di Makan Zaman

0
228

Porosjambi.com – Dahulu kala, Indonesia adalah bagian dari negara-negara yang sangat dihormati, bahkan mungkin ditakuti oleh negara lain. Indonesia memperoleh kemerdekaan melalui perjuangan panjang, dengan senjata seadanya. Kemerdekaan Indonesia diraih dengan semangat persatuan, semangat yang tercermin pada sila ke 3 dasar negara Indonesia.

Semangat yang dulu pernah menyala terang benderang, sekarang telah perlahan meredup. Redup disebabkan oleh ulah segelintir orang dari bangsa sendiri, yang rela menjual harga diri bangsa hanya untuk kepentingan pribadi, golongan dan politik”.  Idealnya, semakin majunya sebuah negara  harusnya diikuti juga oleh semakin tumbuh dan berkembangnya semangat nasionalisme

Nasionalisme adalah roh yang menggerakkan semua elemen masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Substansi nasionalisme Indonesia  memiliki dua unsur; Pertama, kesadaran mengenai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri dari suku, etnik, dan agama. Kedua, kesadaran bersama bangsa Indonesia dalam menghapuskan segala bentuk pensubordinasian, penjajahan, dan penindasan dari bumi Indonesia.   Namun faktanya, seiring berkembangnya zaman, rasa nasionalisme kian memudar.

 Generasi muda tidak lagi mengenal dengan baik jati diri bangsa. Generasi muda sekarang adalah generasi “galau” dengan masalah pribadi.  Hal ini dibuktikan dari berbagai sikap dalam memaknai berbagai hal penting bagi Negara Indonesia.

Contoh sederhana yang menggambarkan betapa kecilnya rasa nasionalisme, diantaranya masyarakat Indonesia sekarang adalah:

  1. Pada saat upacara bendera, masih banyak rakyat yang tidak memaknai arti dari upacara tersebut. Upacara merupakan wadah untuk menghormati dan menghargai para pahlawan yang telah berjuang keras untuk mengambil kemerdekaan daritangan para penjajah. Para pemuda seakan sibuk dengan pikirannya sendiri, tanpa mengikuti upacara dengan khidmad.
  2. Pada peringatan hari-hari besar nasional, seperti Sumpah Pemuda, hanya dimaknai sebagai seremonial dan hiburan saja tanpa menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme dalam benak mereka.
  3. Lebih tertariknya masyarakat terhadap produk impor dibandingkan dengan produk buatan dalam negeri, lebih banyak mencampurkan bahasa asing dengan bahasa Indonesia untuk meningkatkan gengsi, dan lain-lain. Selain itu masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk memasang bendera di depan rumah, kantor atau pertokoan. Bagi yang tidak mengibarkannya mereka punya berbagai macam alasan  benderanya sudah sobek atau tidak punya tiang bendera, malas, cuaca buruk, dan sebagainya.
  4. Sikap acuh tak acuh masyarakat khususnya para pemuda pada situasi kondisi bangsa.

Contoh diatas merupakan fenomena yang perlahan tampak ke permukaan, dan menjadi pemicu memudarnya semangat nasionalisme.  Identitas bangsa seperti bendera merah putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lain sebagainya hanyalah merupakan simbol, simbol bahwa negara Indonesia masih berdiri tegak dan mampu mensejajarkan dirinya dengan bangsa lain. Hal utamanya adalah semangat berjuang dari penjajahan bangsa lain yang sekarang terbungkus oleh sistem kapital liberalisme. Slogan NKRI harga mati, setidaknya menandakan bangsa Indonesia adalah bangsa kuat dan mampu menopang dirinya sendiri. (JP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here