Terkena Virus Rubella Saat Hamil, Berbahayakah Pada Janin?

0
174

porosjambi.com – Kehamilan bagi seorang ibu merupakan masa yang sangat membahagiakan. Kehamilan dirasakan sebagai anugrah terindah yang diberikan oleh Tuhan. Menjalani masa kehamilan selama sembilan bulan dengan berbagai keluhan dan kecemasan namun semua akan terasa menyenangkan karena semua masa itu dilalui dan didampingi oleh suami tercinta. Hamil dengan kondisi ibu dan janin yang sehat dan persalinan yang lancar adalah harapan bagi calon ibu dan ayah.

Selama masa itu, ibu hamil akan rutin melakukan berbagai pemeriksaan untuk memastikan bahwa janin yang dikandung dalam keadaan sehat. Pemeriksaan tersebut meliputi kontrol rutin dengan bidan ataupun dokter spesialis kandungan, pemeriksaan USG dan pemeriksaan darah. Pemeriksaan darah disini meliputi kadar Hemoglobin dan zat besi, sel darah putih, golongan dan rhesus darah, TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalo virus, Herpes), virus hepatitis, HIV dan beberapa item lainnya.

Rubella dan Kehamilan

Rubella atau yang dikenal dengan campak Jerman adalah infeksi virus yang ditandai demam disertai munculnya ruam merah di kulit. Penyakit ini dapat ditularkan melalui udara baik itu ketika terkena bersin dan ingus dari penderita rubella. Di Indonesia sendiri, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) melaporkan bahwa terdapat lebih dari 400 kasus rubella yang tercatat pada tahun 2011. Bagi kebanyakan orang, rubella merupakan penyakit ringan, tetapi bagi wanita hamil, rubella dapat berdampak serius. Rubella sering terjadi pada anak-anak, namun sejak diperkenalkannya program vaksinasi pada 1980-an, penyakit ini telah hampir seluruhnya diberantas.

Gejala utama dari rubella adalah ruam warna merah muda yang khas. Dimulai dengan bintik-bintik, yang bisa gatal dan menyebar dari belakang telinga ke kepala dan leher kemudian bagian lain dari tubuh bagian atas. Ruam biasanya berlangsung sampai seminggu. Gejala utama lainnya adalah pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar telinga dan belakang kepala, badan panas/suhu tinggi mencapai 38oC atau lebih dan badan menggigil. Gejala yang kurang umum lainnya pada orang dewasa adalah arthritis dan arthralgia (peradangan dan nyeri sendi).

Sebagaimana “anggota” TORCH lainnya (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalo Virus, dan Herpes), infeksi virus Rubella ini dapat menyebabkan sejumlah cacat lahir yang dikenal sebagai sindrom rubella kongenital (Congenital Rubella Syndrom/CRS). Cacat lahir ini termasuk cacat mental, katarak, tuli, ketidaknormalan jantung (penyakit jantung kongenital) dan pertumbuhan janin lebih lambat dari janin normal sampai keguguran.

Susahnya, sebanyak 50% lebih ibu yang mengalami infeksi Rubella tidak merasakan apa-apa. Sebagian lain mengalami demam, ngilu pada tulang, nyeri disertai pembengkakan kelenjar getah bening seperti kelenjar pada belakang telinga. Setelah 1-2 hari muncul bercak-bercak merah seluruh tubuh yang hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari. Dokter tentunya juga tidak curiga bila tidak mendapat laporan dari ibu.

Walaupun ibu tidak merasa apa-apa, tetapi akibatnya dapat fatal bagi janin. Berdasarkan data dari WHO, paling tidak 236.000 kasus Sindrom Rubella Kongenital terjadi setiap tahun di negara-negara berkembang dan dapat meningkat 10 kali lipat pada saat terjadi epidemi.

Katarak pada CSR

Tidak semua janin akan tertular. Jika ibu hamil terinfeksi saat usia kehamilannya < 12 minggu maka risiko janin tertular 80-90 persen. Jika infeksi dialami ibu saat usia kehamilan 15-30 minggu, maka risiko janin terinfeksi turun yaitu 10-20 persen. Namun, risiko janin tertular meningkat hingga 100 persen jika ibu terinfeksi saat usia kehamilan > 36 minggu.
Untungnya, Sindrom Rubella Kongenital biasanya terjadi hanya bila ibu terinfeksi pada saat umur kehamilan masih kurang dari 4 bulan. Bila sudah lewat 5 bulan, jarang sekali terjadi infeksi.

Mencegah Rubella

  1. Vaksinasi sejak kecil atau sebelum hamil. Vaksin dapat diberikan dengan vaksin MR (Measles Rubella) yang dapat diberikan saat anak berumur 9 bulan-15 tahun.
  2. Deteksi status kekebalan tubuh sebelum hamil. Sebelum hamil sebaiknya memeriksa kekebalan tubuh terhadap Rubella, seperti juga terhadap infeksi TORCH lainnya.
  3. Bila ibu sedang hamil mengalami demam disertai bintik-bintik merah, pastikan apakah benar Rubella dengan memeriksa IgG danIgM Rubella setelah 1 minggu. Bila IgM positif, berarti benar infeksi Rubella baru
  4. Bila ibu hamil mengalami Rubella, pastikan apakah janin tertular atau tidak. Untuk memastikan apakah janin terinfeksi atau tidak maka dilakukan pendeteksian virus Rubella dengan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Bahan pemeriksaan diambil dari air ketuban (cairan amnion). Pengambilan sampel air ketuban harus dilakukan oleh dokter ahli kandungan & kebidanan, dan baru dapat dilakukan setelah usia kehamilan lebih dari 22 minggu.(RR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here