Virus Perusak Generasi Muda Bangsa yang bernama LGBT dan Narkoba

0
111

Porosjambi.com – Di zaman peradaban teknologi informasi disertai globalisasi, bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan nyata yang baru dalam kehidupan bermasyarakatnya. Dalam 10 tahun mendatang generasi Y (generasi yang lahir diantara tahun 1980an-1990an) akan memimpin bangsa ini. Pribadi yang sehat secara jasmani dan rohani tentunya yang dapat  diharapkan dapat menjadi pemimpin dalam bidangnya masing-masing.

Dalam hal ini kehidupan bersosial mutlak diperlukan untuk tumbuh kembang generasi yang dapat mengamalkan nilai-nilai luhur bangsa indonesia yang telah ditanamkan oleh para pendiri bangsa ini. Namun, kehidupan sosial atau pergaulan yang ada sekarang ini cenderung mengarahkan generasi muda ke arah yang negatif.

Terlepas dari kemudahan masyarakat yang sangat terbantukan oleh kehadiran informasi dan teknologi yang ada saat ini, Zaman ini memudahkan masyarakat dalam mengakses segala macam informasi.

Salah satu hal yang disayangkan saat ini adalah kurangnya pengawasan dari otoritas pemerintah terhadap hal-hal yang mengandung unsur penyimpangan dikemudian hari.

Penulis memulai dari isu LGBT

Isu LGBT ini mulai menjadi sorotan publik masyarakat Indonesia setelah Amerika Serikat melegalkan Pernikahan Sejenis pada akhir tahun 2015 yang lalu. Sebenarnya masyarakat Indonesia tanpa disadari sudah mendapat ancaman dari gencarnya stasiun televisi yang menampilkan artis-artis kemayu yang identik dengan LGBT sehingga masyarakat sedikit banyak mulai terbiasa dengan perilaku kemayu itu di kehidupan nyata dan mentolerir hal tersebut. Memang dalam hal ini pemerintah tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena kurangnya kontrol terhadap stasiun televisi yang hampir bisa dikatakan menampilkan pembodohan publik secara terus-menerus dan minimnya konten edukasi dalam program televisi.

Dalam essay ini penulis tidak terlalu fokus kepada media televisi yang memang sudah dapat dipahami pengaruh negatifnya di dalam masyarakat terkait LGBT ataupun efek negatif yang lainnya. Namun, penulis lebih menitikberatkan pada gerakan yang dilakukan oleh kelompok LGBT melalui komunitas sosial dan kajian akademis.

Kelompok LGBT yang menyebarkan agendanya melalui kajian akademis terlihat di Salah satu universitas di Indonesia. Pihak otoritas kampus merasa kecolongan dengan adanya komusitas LGBT yang beraktivitas di dalam tubuh kampus dengan membawa nama universitasnya. Ketika isu tersebut mencuat ke media, pihak universitas merespon dengan pernyataan bahwa komunitas tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan universitas tersebut serta kegiatan yang dilakukan komunitas tersebut tidak ada izin dari pihak otoritas kampus. Namun setelah pemberitaan mereda, komunitas tersebut sampai saat ini masih terus menjalankan aktivitasnya.

Penulis mencoba untuk bersikap objektif dan terukur terhadap isu-isu yang dituliskan dengan menampilkan bukti atau contoh yang relevan. Penulis tidak tertarik untuk membahas tentang status LGBT sebagai penyakit kejiwaan atau bukan. Penulis hanya menganggap bahwa LGBT dan Narkoba adalah Virus yang mengancam generasi muda di Indonesia.

Gerakan  yang dilakukan oleh Komunitas LGBT umumnya ditampilkan oleh orang-orang yang memiliki wajah yang ceria dengan pembawaan yang dapat mencairkan suasana.

Kelompok LGBT banyak terlibat dalam gerakan-gerakan yang bersifat humanis, seperti pada isu-isu perempuan (kesetaraan gender) dan lingkungan. Dengan begitu, mereka dengan cepat dapat menarik simpati publik serta dukungannya. Mereka terlebih dahulu menampilkan citra sebagai pemerhati lingkungan dan isu-isu mengenai anak dan perempuan.

Kelompok LGBT secara terorganisir terus-menerus menyuarakan sikapnya terhadap isu-isu perempuan dan anak, seperti kesetaraan gender, Perlindungan terhadap perempuan terkait pelecehan seksual dan eksploitasi pada anak.

Pada dasarnya penulis sama sekali bukan seorang misogonis atau sikap membenci perempuan, karena tulisannya yang cenderung skeptis terhadap kesetaraan gender atau feminisme. Namun jika dilihat dari bukti empiris dengan pengamatan yang cukup dalam, penulis dapat menyimpulkan bahwa gerakan perempuan atau feminist yang menyuarakan kesetaraan gender merupakan pintu gerbang awal untuk menuju tahap selanjutnya dari hak-hak kelompok LGBT yang menginginkan legalitas pernikahan sejenis yang merupakan agenda utama kelompok LGBT.

Pola seperti ini sama seperti perilaku penguna narkoba pada jenis ganja. Ada sebuah anggapan umum pada kasus narkoba jenis ganja ini. Ganja dikatakan sebagai Gateway atau gerbang pembuka bagi narkoba-narkoba jenis lain yang lebih membahayakan. Dalam artian jika seseorang sudah mengkonsumsi ganja dan mulai terbiasa, maka besar kemungkinan seseorang tersebut akan mencoba untuk mengkonsumsi narkoba jenis lain.(GC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here