Pemilu Legislatif yang Berkualitas

0
161

Porosjambi.com – Pemilu di Indonesia bisa dibilang pesta demokrasi rakyat dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya pada bidang pemerintahan Indonesia. Sebagai negara-negara yang lain yang menganut paham demokrasi, Indonesia menjalani pemilihan umum (pemilu) pada setiap kurun waktu tertentu, sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Pemilu itu penting, karena merupakan wujud dari kedaulatan rakyat terhadap hak-haknya untuk memilih para pejabat negara pada sistem pemerintahan di Indonesia. Pemilihan umum adalah salah satu meknisme demokrasi pada negara kesatuan republik Indonesia yang tercantum pada pasal 1 ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa rakyat memiliki kekuasaan (kedaulatan) yang tertinggi. Pemilu di Indonesia dikenal menganut asas “Luber” yang merupakan singkatan dari “langsung, umum, bebas & rahasia”. Pemilu dengan asas “luber” sudah dipakai sejak zaman orde baru. hal tersebut berarti :

  1. Langsung, memiliki arti yaitu untuk setiap pemilih diwajibkan untuk memberikan suaranya secara langsung dan tidak boleh diwakilkan oleh siapapun
  2. Umum, berarti pemilihan umum yang diselenggarakan dapat diikuti seluruh warga negara, yang sudah memiliki hak suara untuk memilih tanpa terkecuali
  3. Bebas, berarti pemilihan umum akan dijalankan secara bebas untuk memilih, dan dapat memberikan suaranya tanpa ada paksaan dari pihak mana pun
  4. Rahasia, berarti suara pemilih yang diberikan bersifat rahasia hanya diketahui oleh si pemilih itu sendiri dan tidak mungkin bisa diketahui oleh pihak siapapun.

Lalu pada era reformasi, asas pemilu berubah menjadi “jurdil” yakni singakatan dari jujur dan adil.

  1. Jujur, pemilu di Indonesia, harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
  2. Adil, yakni memberikan perlakuan yang sama pada setiap peserta pemilu, tanpa ada pengeculian terhdapa peserta atau pemilih tertentu.

Dalam asas jujur dan adil hal tersebut akan mengikat. Jadi, tidak hanya pada peserta pemilu, tetapi juga terhadapa penyelenggaraan pemilu. Kemudian sampai pada pemilu Indonesia yang dilakukan setelah amandemen keempat UUD 1994 ini, asas pemilu tersebut. semua dilakukan secara efektif dan efisien berdasarkan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

Menurut ketua komite I DPD RI, Alirman Sori mengatakan, untuk menjadikan hasil pemilihan umum yang berkualitas, harus pula caleg yang diajukan parpol berkualitas. Jangan hanya dicalegkan orang yang punya duit, seperti kasus yang kita dapati akhir-akhir ini caleg yang dicalonkan seperti mereka yang menggunakan kekuasaan, uang, ketenaran seperti artis tetapi tidak mempunyai pendidikan yang mendukung yang mana tidak berbasis politik dan tidak memahami tugas dan fungsi legislatif. Menurut Alirman Sori, Pemilih cerdas dan caleg cerdas, maka harus sama-sama equal. Partai politik yang berdifinisi sebagai sekelompok manusia yang terorganisasir yang stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan pemerintah bagi pimpinan partai dan berdasarkan penguasaan ini akan memberikan manfaat bagi anggota partainya, baik idealisme maupun kekayaan material serta perkembangan lainnya. Dalam definisi tersebut dalam makna sesungguhnya bahwa partai politik hendaknya yang berkualitas dan mengerti akan politik dan tugas fungsi sebagai legislatif dan juga yang memilih pun jangan hanya dilihat calon itu dari segi primordialisme dan hubungan tertentu, tetapi mengerti akan potensi caleg yang lebih menonjol inti dari mutu calon yang dipilih tersebut adalah parpol hendaknya lebih menyediakan caleg yang lebih berkualitas agar yang memilih pun juga cerdas.

  1. Persoalan dalam Pemilu

Dalam penyelenggaraan pemilu, kita masih banyak menemukan permasalahan persoalan seperti biaya pemilu yang tinggi, kualitas calon anggota legislatif yang belum memuaskan, daftar pemilih tetap dan golput. Ini masih sering ditemukan dari pemilu dari tahun ke tahun dan merupakan tugas untuk KPU (Komisi Pemilihan Umum). Salah satunya yaitu Golput, istilah golput telah ada sejak masa orde baru  menjelang pemilu 1971 dan pencetusnya yaitu Arief Budiman dan kawan-kawan sebagai bentuk perlawanan arogansi pemerintah dan ABRI (sekarang TNI) yang sepenuhnya memberikan dukungan politis kepada golkar. Arogansi ini dinilai menyimpang dari nilai dan kaidah demokrasi di mana kekuasaan sepenuhnya ada di tangan rakyat yang memilih. Golput ialah berkeputusan untuk tidak memilih dari salah satu kontestan yang tersedia pada kertas suara yang ketika dilakukan pemungutan suara. Di negara maju seperti Amerika saja mereka menggalang koalisi partai-partai politik 25 parpol untuk meminimalisasikan resiko munculnya golput. sikap golput juga merupakan resiko politik. Jika di Indonesia persentase golput mencapai 45 % sudah mulai dijadikan masalah masional, maka parpol-parpol di Amerika sudah mulai panik jika angka golput mencapai di atas 10% termasuk juga parpol besar seperti demokrat dan republika. Golput mempunyai makna bahwa mereka yang golput melakukan perlawanan secara diam-diam, ini tentunya tidak berdasarkan kaidah yang telah ditentukan. Dan juga upaya meningkatkan kejujuran di antara parpol dalam menyalonkan caleg agar yang lebih berkualitas, karena kebanyakan para parpol mencalonkan caleg karena kepentingan samping seperti anggota parpol yang memberi subsansi uang lebih besar di dalam organisasi parpol.

Tentunya untuk mengatasi golput dalam pemilu ini kita sebagai masyarakat punya kesadaran agar memilih hak suara sesuai dengan kaidahnya. Sosialisasi yang cerdas oleh para caleg juga menekan angka bertambahnya golput, lalu Berkampanye dengan inisiatif sehat dan positif juga dapat mengecil angka golput dan juga komunikasi yang baik dari pihak KPU kepada partisipan sehingga partisipan pun semakin aktif dalam berpartisipasi.

2. Urgensi Pemilu untuk Kepentingan Bangsa

Bangsa Indonesia sempat dijajah oleh negara lain, itu merupakan bentuk bahwa pada masa itu bangsa Indonesia masih lemah dan kepemimpinan pemerintahan masih kurang kuat.apalagi di zaman era globalisasi seperti sekarang, semakin banyak tantangan yang terjadi dan kita harus siap hidup di zaman yang penuh tantangan seperti ini, maka dari itu bangsa Indonesia membutuhkan khalifah yang cerdas dan bijaksana untuk membawa Indonesia ke rancah dunia yang lebih baik. Sebagaimana yang telah disebutkan di dalam Al-qur’an manusia sebagai khalifah dalam surah al-baqarah : 30

“ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”mereka berkata :”mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan engkau ?” Tuhan berfirman :”sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.”(Q.S Al-Baqarah : 30)

Allah telah berfirman di dalam ayat tersebut bahwa Allah memberitahu kepada malaikat untuk menciptakan khalifah (wakil Allah) di bumi. Manusia ini adalah pemimpin di dunia yang mempunyai tanggung jawab kepada Allah atas tugas yang diembannya untuk urusan dunia. Maka dari itu dengan diadakannya pemilu diharapkan para partai politik mempunyai calon legislatif yang pintar dan bijaksana untuk dijadikan wakil Allah selama urusan di dunia ini. Caleg yang pintar, bijaksana dan cerdas adalah caleg yang diharapkan untuk mengurusi kepentingan bangsa Indonesia, maka dari itu pemilu dikatakan pesta demokrasi karena disinilah Allah memberi amanah kepada manusia dan pemilu diharapkan berjalan lancar dan mutu calon yang dipilih dan memilih berkualitas agara bangsa Indonesia dapat lebih baik lagi. Arti demokrasi sendiri adalah proses di mana masyarakat dan negara berperan di dalamnya untuk membangun kultur dan sistem kehidupan yang dapat menciptakan kesejahteraan, menegakkan keadilan baik secara sosial, ekonomi, maupun politik menurut Ahmad Syafi’i Ma’arif. Dari sudut pandang ini, demokrasi dapat tercipta apabila masyarakat dan pemerintah bersama-sama membangun kesadaran akan pentingnya demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tujuan diadakannya pemilu ini adalah untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat yang diwakilkannya dan juga mampu meningkatkan harkat dan martabat bangsa di mata dunia Internasional. DPR dan DPRD diharapkan dapat mewujudkan rancangan undang-undang dan mementingkan kepentingan masyarakat. Pendidikan politik juga penting dan sosialisasi juga perlu agar menghasilkan kualitas hasil pemilu.

3. Sikap yang Dilakukan oleh Warga Negara

Terkait dengan pentingnya penyemaian budaya demokrasi melalui jalur pendidikan, pertumbuhan demokrasi di Indonesia, sebagaimana dikatakan oleh Azra, seyogiannya tidak diperlukan secara trial dan error. Pertumbuhan demokrasi juga tidak bisa diperlakukan secara taken for granted. Demokrasi tidak hanya diperjuangkan dan diwancanakan, tetapi lebih dari itu harus disemaikan, ditanamkan, dipupuk dan dibesarkan melalui upaya-upaya yang terencana, teratur, dan terarah pada seluruh lapisan masyarakat baik melalui jalur pendidikan formal maupun unformal.

Masyarakat harus mempunyai kekuatan. Ini juga perlu pemberdayaan bagi masyarakat melalui upaya sistemastis dan sistemis dalam bentuk pendidikan kewarganegaraan. Warga negara perlu menempuh pendidikan kewarganegaraan, demokrasi, pendidikan HAM dan Politik agar bisa berfikir kritis dan bisa bertindak sesuai dengan kaidah demokratis. Warga negara harus turut aktif dan berpartisipasi dalam mewujudkan bangsa yang lebih tentram, warga negara tidak dianjurkan bersikap apatis, karena wujud bersikap apatis itu hanyalah menghambat terciptanya partisipasi politik di dalam pemilu. Partisipasi politik merupakan salah satu aspek penting dari demokrasi. Asumsi yang mendasari demokrasi dan partisipasi adalah orang yang paling tahu tentang apa yang baik bagi dirinya adalah dirinya sendiri. Karena keputusan politik yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah menyangkut dan mempengaruhi kehidupan warga masyarakat maka warga masyarakat berhak ikut serta menentukan isi keputusan politik itu.

Partisipasi masyarakat dalam bentuk sosialisasi pemilu, pendidikan politik bagi pemilih, survei atau jajak pendapat tentang pemilu, dan perhitungan cepat (Quick Count) hasil pemilu wajib mengikuti ketentuan yang diatur oleh KPU. Pelaksanaan kegiatan perhitungan cepat wajib memberitahukan metodologi yang digunakannya, dan hasil perhitungan cepat yang dilakukan bukan merupakan hasil resmi pemilu. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut di atas, merupakan tindak pidana pemilu. Partisipasi politik warga negara dapat terjadi dalam berbagai bentuk seperti proses penentuan, bentuk negara, struktur dan susunan pemerintahan hingga penentuan sistem penyelenggaraan pelayanan publik dan pembangunan serta pengawasan.

Seperti yang kita ketahui, Golput adalah tindakan dalam menghambat pemilu. Bentuk dari perlawanan secara diam-diam, warga negara hendaknya tidak melakukan golput dan lebih berkomunikatif dan berpartisipasi politik agar menggunakan hak suaranya dalam pemilu. Beberapa hal yang dapat meningkatkan partisipasi politik salah satunya ialah dengan meningkatkan pendidikan, karena masyarakat yang tingkat pendidikannya tinggi mempunyai tingkat partisipasi politik yang tinggi pula karena mereka mengatahui arti pentingnya politik dalam kehidupan suatu negara.

4. Kesimpulan dan Saran

Dalam asas jujur dan adil hal tersebut akan mengikat. Jadi, tidak hanya pada peserta pemilu, tetapi juga terhadap penyelenggaraan pemilu. Kemudian sampai pada pemilu Indonesia yang dilakukan setelah amandemen keempat UUD 1994 ini, asas pemilu tersebut. semua dilakukan secara efektif dan efisien berdasarkan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. partai politik hendaknya yang berkualitas dan mengerti akan politik dan tugas fungsi sebagai legislatif dan juga yang memilih pun jangan hanya dilihat calon itu dari segi primordialisme dan hubungan tertentu, tetapi mengerti akan potensi caleg yang lebih menonjol inti dari mutu calon yang dipilih tersebut adalah parpol hendaknya lebih menyediakan caleg yang lebih berkualitas agar yang memilih pun juga cerdas.

Dalam penyelenggaraan pemilu, kita masih banyak menemukan permasalahan persoalan seperti biaya pemilu yang tinggi, kualitas calon anggota legislatif yang belum memuaskan, daftar pemilih tetap dan golput. Ini masih sering ditemukan dari pemilu dari tahun ke tahun dan merupakan tugas untuk KPU (Komisi Pemilihan Umum). Juga kualitas caleg yang kurang menjamin.

Tujuan diadakannya pemilu ini adalah untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat yang diwakilkannya dan juga mampu meningkatkan harkat dan martabat bangsa di mata dunia Internasional. DPR dan DPRD diharapkan dapat mewujudkan rancangan undang-undang dan mementingkan kepentingan masyarakat. Pendidikan politik juga penting dan sosialisasi juga perlu agar menghasilkan kualitas hasil pemilu.

Partisipasi politik warga negara dapat terjadi dalam berbagai bentuk seperti proses penentuan, bentuk negara, struktur dan susunan pemerintahan hingga penentuan sistem penyelenggaraan pelayanan publik dan pembangunan serta pengawasan.

Saran Penulis

Jika kita mengikuti kaidah-kaidah dan aturan di dalam pemilu, kita dapat berjalan sukses dan lancar. Parpol yang dapat menyediakan caleg yang berpendidikan di dalam bidang dan caleg tersebut mengerti akan tugas dan fungsi sebagai dewan legislatif dan juga saat detik-detik kampanye dapat bersosialisasi dan berkomunikatif dengan baik kepada masyarakat dapat menekan laju tingginya angka golput di dalam pemungutan suara. Hilangkan sikap KKN. Maka caleg dan warga negara dapat menjadi pemilih dan yang dipilih bermutu cerdas. Jika sejalan dengan yang diharapkan, warga negara akan mengikuti pemilu dengan hikmat dan bersikap partisipasi politik. Caleg dan warga negara harus sama-sama memiliki pendidikan politik yang tinggi agar sama-sama sejalan.

Namun demikian, suksesnya pemilu tidak semata-mata tergantung pada sistem, tetapi juga sangat tergantung pada penyelenggara dan peserta pemilu itu sendiri. Kita berharap agar penyelenggaraan pemilu dan peserta pemilu khususnya, atau masyarakat umumnya, dalam melaksanakan hak dan kewajibannya, betul-betul dilaksanakan dengan jujur, adil dan bertanggung jawab, serta meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Dengan kata lain, jangan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Penulis : Gian Cahyo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here